Monday, January 19, 2009

Anak Pasar Ciroyom Butuh Baju Bekas

Salam,

Beberapa hari yang lalu (tepatnya semalam), teman saya, Arfah memberi email yang berisi permohonan bantuan. Begini bunyinya :

"Halo teman-teman.

Tanggal 9 Januari lalu, saya mendapat sms dari Pak Gamesh. Beliau
adalah dosen ITENAS, sempat kuliah S2 dan S3 di Teknik Elektro ITB.
Jika temen-temen TL'2004 inget masa OSKM, Pak Gamesh ini sempet
memeriahkan acara dengan memakai jas lab dan membaca puisinya di
deretan tangga menuju Sunken, 4.5 tahun lalu.

Setelah aktif di pendidikan anak di beberapa tempat di Bandung, kini,
Pak Gamesh aktif di pendidikan anak Pasar Ciroyom. Dia mengirimkan
kabar untuk meminta bantuan temen-temen TL:

"help help...mas,bisa mintakan kaos bkas kpd tman2mu TL utk anak2
cryom. Ukuran usia sd-smp-sma. Kira2 utk awal februari. Tx banyak"

Pendidikan anak di Pasar Ciroyom, sejauh yang saya inget, sempat
diurus oleh Bunda, yang kemudian dibantu oleh Pak Gamesh. Saya sendiri
tidak pernah membantu di sana, karena punya tanggungjawab di tempat
lain. Untuk tahu kondisi anak di Pasar Ciroyom, mungkin temen-temen
bisa baca artikel di bawah postingan ini.

Jadi, kalo temen-temen punya kaos bekas, dan berniat untuk
menyumbangkan ke anak-anak Pasar Ciroyom, bisa menghubungi saya, Arfah
(085624188452). Kalo pengen ikut jadi relawan juga boleh.

Forward ke milis lain ya, tidak hanya TL.

Terima kasih.

Salam.
Arfah


Pasar Ciroyon
Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya, Pak Gamesh mengajak saya
untuk mengunjungi Pasar Ciroyom, untuk melihat kondisi belajar
mengajar di sana.

Seorang teman saya, bernama Bunda seorang yang saya kenal sejak
Ramadhan 2004, mengajar anak-anak yang tinggal di Pasar Ciroyom.
Bunda, adalah seorang perempuan manis yang saya temui di wyata guna
beberapa waktu yang lalu. Dia dulu sering mengajar anak-anak jalanan
di dekat IP (Istana Plaza). Perempuan manis keibuan yang berani itu
juga dulu sering membawa tali rafia untuk mengikat celana anak-anak
jalanan (non-sanggar) agar tidak mudah dipeloroti. Kabarnya, beberapa
anak-anak jalanan ini sering 'dipakai' untuk iseng oleh beberapa orang
dewasa.

Jadi.. hari ini sebenarnya saya tidak sabar untuk bertemu Bunda
kembali setelah berjumpa beberapa tahun yang lalu. Kebetulan, semalam
ada seorang anak Psikologi Unpad yang menghubungiku karena berniat
membantu kegiatan kerelawanan. Ternyata hari ini ada dua relawan baru
dari Psikologi. Saya sangat senang mereka bisa membantu, kebetulan
rumah mereka tak begitu jauh dari Pasar Ciroyom.

Kembali pada pasar Ciroyom. :) Pak Gamesh mengantarkan saya, Le,
Imoet, Ditta, dan Yuli ke Pasar Ciroyom pk 15.oo. Suasanya saat itu
terlishat cukup sepi karena masih sore (Pasar Ciroyom semakin ramai di
malam hari). Gedung pasarnya sendiri cukup gelp. Dan saat saya datang
banyak asap di mana-mana. Kami pun ke lantai paling atas. Di sana
terdapat sebuah lahan luas dengan pemandangan kota Bandung yang
terlihat sangat indah. Benar-benar indah. Kami pun menunggu Bunda dan
anak-anak datang. Di lantai paling atas terdapat sebuah mesjid.
Biasanya anak-anak itu belajar di sekitar mesjid tersebut. Anak-anak
belajar berhitung dan membca.

Pak Gamesh telah bercerita bahwa anak-anak disana belajar tadinya
sambil ngelem. Tapi kini ataurannya tidak boleh ngelem sambil belajar.
Walau sering mendengar kisah tentang anak-anak yang ngelem, saya belum
pernah melihat dengan mata saya sendiri anak-anak ngelem. Tadi saat
bunda dan anak-anak mulai berdatangan saya melihat bahwa semua
anak-anak membawa botol lem, lalu menghisap lem yang ditaruh
duibelakang baju.

Tapi ternyata anak-anak cukup terbuka dengan kedatangan kita, mereka
cukup semangat dan mengajak belajar (walaupun sebentr belajarnya).
Mereka belajar berhitung dan iqro. Saya mengajari seorang anak
perempuan berhitung. Dan ternyata dia cukup pandai menghitung
tambah-tambahan ribuan dan mengerti beberpa perkalian. Tapi, ketika
saya mengajaknya mengisi tabel perkalian, tapi tampaknya dia melihat
tabel itu kurang simetris, misalnya kolom 2 x 4 di lihatnya sebagai
kolom 2 x 7, mungkin karena pengaruh ngelem.

Setelah belajar, kegiatannya adalah mandi. Dari anak-anak tersebut
saya dengar kadang mereka mandi hanya setahun sekali misalnya sat
lebaran. Tadi telah dibawakan handuk, dan sabun, dan mereka pun mandi
di mesjid. Masing-masing anak harus membayar Rp 1000,- / anak ke
mesjid untuk menumpang mandi.

Saat anak-anak mandi, aku pun berbincang-bincang dengan Bunda. Aku
tanyakan kenapa anak perempuannya sedikit. Ternyata banyak anak
perempuan yang tidak berani untuk ikut ngumpul dan belajar, karena
perempuan-perempuan di daerah situ serng dijadikan korban 'Para mami'.
Ada satu anak perempuan yang ikut belajar. Anak perempuan ini cukup
istimewa tersebut diasuh oleh sang 'kakak' yang ikut menjaga dan
merawat anak-anak yang tinggal di Ciroyom tersebut, sehingga tidak ada
yang berani dengan mengganggu anak perempuan tersebut (untuk dijadkan
korban 'mami').

Saya mungkin tidak bisa membantu Bunda dengan rutin, tapi dalam hati
saya berjanji untuk mencari relawan-relawan yang bisa membantu Bunda.
Ada yang berminat?

(Dhitta Puti Sarasvati,
http://mahkotalima.blogspot.com/2008/07/pasar-ciroyon.html#comments)"

Setelah dibaca harap dibantu y?

4 comments:

Anonymous said...

saya ingin jadi sukarelawan, tapi yang dekat rumah sekitaran arcamanik kemana ya kontaknya?terima kasih

Ivan said...

coba ente hubungi si arfah aja 085624188452

Pakaian Anak said...

mau tanya nih,..
pasar ciroyon tuh mana

Ivan said...

di Bandung pak/bu