Wednesday, September 12, 2007

Kebenaran

Sedari dulu, manusia selalu mencari kebenaran dan selama itu pula manusia menyangkal kebenaran yang dia anut. Mulai dari zaman Aristoteles sampai pada zaman Whitehead, definisi dari kebenaran selalu berubah-ubah. Sampai sekarang, yang saya tahu, ada 6 teori kebenaran, yaitu :

  1. Correspondence Theory :

Pernyataan yang benar harus sesuai dengan kenyataan, sehingga semuanya harus ada kebenaran objektifnya.


  1. Coherence Theory :

Pernyataan yang benar harus sesuai dengan semua elemen pada sistem yang bersangkutan

  1. Constructivist Theory :

Pernyataan yang benar sebenarnya dibuat oleh proses sosial. Yang didalamnya ada persepsi, kesepakatan dan pengalaman sosial.


  1. Consensus Theory :

Kebenaran adalah hasil dari kompromi dan kesepakatan


  1. Pragmatic Theory :

Kebenaran harus diuji dengan cara melakukan percobaan terus menerus. Sehingga ada kemungkinan salah.


  1. Formal Theory :

Seperti yang dilakukan di matematika dengan logika preporsional, himpunan aksioma dan aturan inferensi, dan tabel kebenaran. Namun, belakangan ditemukan paradoks kebohongan, seperti “penyataan ini tidak benar” yang menimbulkan pertanyaan baru, yaitu “Apakah teori formal dalam matematika dapat diterapkan dalam bahasa natural?”. Sehingga teori formal ini, oleh beberapa ahli, diragukan implementasinya pada dunia sosial. Namun, dalam dunia komputasi, hal ini dapat digunakan dengan baik.


Namun, dalam menentukan kebenaran, ada dua hal yang mempengaruhinya yaitu persepsi dan realitas. Dua hal ini, saya dapatkan dari mencampurkan semua teori kebenaran. Terkadang, manusia melakukan lompatan logika yang dipengaruhi oleh persepsi, contohnya “si budi memukul punggung si badu” dengan realitas yang sedikit ini, kita membuat persepsi bahwa si Budi ini brengsek. Namun, ada realitas yang ditutupi di belakangnya, bahwa si Badu ini keselek sehingga si Budi harus memukul punggung si Badu biar sembuh. Penutupan realita dan persepsi yang salah ini membuat kita membuat realita baru tentang si Budi. Realita baru ini membuat persepsi buruk bertambah terhadap si Budi. Sehingga, pada titik ini, saya berpendapat bahwa persepsi dan realita saling mempengaruhi dan tidak bisa dipisahkan sehingga membentuk apa yang di sebut refleksibilitas kebenaran. Penutupan realita dan persepsi menimbulkan kemungkinan salah atau falibilitas. Refleksibilitas dan falibilitas, ditambah teori-teori yang ada sebelumnya, yang akan kita gunakan untuk merekayasa kebenaran sosial.


Caranya kita merekayasa kebenaran sosial adalah :

  1. Dengan Propaganda yang Ekstensif :

Seperti yang saya jelaskan, bahwa realita yang ditutupi atau ditambahkan akan menimbulkan persepsi yang salah yang menimbulkan realita yang salah.


  1. Menggunakan Kekuasaan :

Dengan memanfaatkan kekuasaan dan konflik, seseorang dapat mendorong tercapainya konsensus yang baru yang ada dimasyarakat, terutama bila masyarakat tidak melawan pemaksaan konsensus yang baru.


  1. Persaingan Ide di Masyarakat :

Dengan mengimplementasikan ide tersebut di masyarakat dan membiarkan melihat hasilnya, maka ide tersebut menjadi lolos uji dan benar, untuk waktu tertentu.


Diambil dari : wikipedia.org, Open Society (Soros), Principia Mathematica (Whitehead), Virus Akal Budi


Ivan Sugiarto Widodo

(13504149)

No comments: