Showing posts with label pemikiran. Show all posts
Showing posts with label pemikiran. Show all posts

Friday, July 24, 2009

Integrasi NSIApay, overview Report

NSIApay adalah payment gateway untuk melakukan pembayaran online, yang digunakan bila sebuah merchant web tidak memiliki sebuah https atau perjanjian dengan kartu-kredit, mereka dapat melakukan pembayaran melalui situs ini. Karena selain mudah, dia juga dilengkapi dengan metode pembayaran cicilan... Luar biasa bukan!

situs ini juga menangani permasalahan-permasalahan web standar seperti x-site-forgery, sql injection dan x-site-scripting... dengan cara sederhana, yaitu melakukan request bolak balik kepada situs kita :)... walopun time consuming, paling tidak situs mercant tidak perlu menggunakan metode enkripsi form seperti pada paypal <_<, memudahkan untuk situs yang tidak memiliki SSL untuk memvalidasi form :D...

kemudian, dari segi keamanan... mereka sudah menggunakan metode POST untuk setiap pengiriman data... sehingga lebih aman, karena tidak terlihat disisi user, data apa saja yang perlu dikirim.

namun, metode x-site-request dengan cara ini tidak disupport drupal :(... sehingga diperlukan sedikit perubahan... dan pengamanan dengan melakukan filterisasi dari request ke server kita, untuk menghindari x-site-forgery :D... dengan cara
$_SERVER['REMOTE_ADDR'] = [address server nsiapay]... kalo di PHP :)...

secara overall, Nsiapay nyaris sempurna, cuma ga bisa pake drupal aja :(

Thursday, July 09, 2009

After Action Report (pemilu bung)

Saya kemarin bela-belain dateng ke Jakarta agar SBY ga kepilih, karena ada kekhawatiran bahwa KPK bakal dibredel karena ada jaksa penuntut yang berkata kurang sopan. Alasan saya yang kedua adalah adanya penyanyian lagu Indonesia Raya dengan nada lagu AS dan pak SBY tidak protes. Jadilah saya dengan semangat untuk memilih selain SBY, walaupun akhirnya saya pilih JK karena kemungkinan kalahnya besar, pokoknya yang penting dua putaran.

Kemudian, saya melihat quick count di TV, dan melihat kalo SBY menang. Jadilah saya kawatir kalo-kalo KPK bakal dibredel seperti ketakutan saya yang sebelumnya. Well, tapi sekarang rakyat sudah menentukan untuk memilih beliau, dan semoga KPK ga dibubarin >_<, cukup dipecat aja tuh yang ngomong kasar itu. Mungkin emang rejekinya JK disuruh bangun masjid di kampung sama gusti Allah...

Yah begitulah, kembali ke mode autopilot... kompetisi yang menarik, dan yang kalah ga boleh ngambek kek kemaren ya? kalo pun ada kecurangan toh SBY tetep menang keknya :D

Wednesday, June 17, 2009

SBY Kanjeng Gusti Sultan Ku -_______-

Dari kemaren saya mikir, alasan tim kampanye SBY plus alasan Denny JA dan LSInya untuk memajukan pemilu dan memilih SBY berboedi... Alasannya adalah untuk menghemat anggaran sebesar 40 trilyun lebih baik pilih SBY saja, toh di survey udah diatas 50 % sehingga ga perlu ada pemilu dua putaran, terus pake alasan kalo ada dua putaran entar kena Ramadhan (emang SBY dan timnya kenapa gt ama Ramadhan, Nabi Muhammad perang pas lagi Ramadhan? alasan yang ga make sense), terus alsesan lagi entar harga minyak bakalan naik sekitar september (oh, jadi abis kepilih naikin harga minyak? Bagossss!!!)... nah terus kenapa musti pilih SBY gara-gara popularitas? saya ga habis pikir, toh kalo popularitasnya bener dia bakal menang jg, tinggal dimaintain aja kan?? (ato jangan2 itu boongan -_____-)...

Nah, tapi dari segi demokrasi, isu pemilu satu putaran dengan alasan menghemat anggaran itu sangat menciderai demokrasi... kenapa ga si SBY mengangkat dirinya menjadi Yang Mulia Sinuhun Kanjeng Sultan (Well, tentu saja kalo dia angkat dirinya jadi Kaisar ga bisa karena udah gw booking) DR. H Soesilo Bambang Yudhoyono Kalifatullah (biar islami) Nusantara aja? selama2nya kita bakal hemat anggaran, karena ga ada pemilu tentu saja. Nah, abis si SBY terus keanaknya, ke cucu nya dst. Hemat toh??

udah, sekarang gw jadi pengen pemilu satu putaran tapi yang menang megalodon kalo si prabowo maw kup tu barney ato si JK...

Sunday, June 07, 2009

Portal Lembaga Publik yang Baik

Dalam menciptakan Masyarakat Terbuka dimana mekanisme politik haruslah transparan dan fleksibel, Sebuah Lembaga Pengawasan Publik (seperti KPK, BPK dan Kejagung), sebaiknya dapat dinilai oleh masyarakat umum. Hal ini diperlukan agar masyarakat dapat melihat bahwa ia adalah lembaga yang akuntabel dan selalu menerima masukan dari masyarakat umum. Masukkan dari masyarakat tadi, dapat diolah menjadi keputusan yang akan membuat lembaga tersebut menjadi lebih baik secara kinerja dan harum namanya. Namun, keengganan dari pihak administrator web-web lembaga tersebut untuk menyetujui komentar-komentar yang ada dan membalasnya membuat masyarakat malas untuk mengunjungi situsnya dan membuat komunikasi di situs tersebut berjalan satu arah dan tidak terdapat sebuah dialog yang membangun. Selain itu masyarakat juga tidak dapat mengetahui apa saja rapat yang sedang dilakukan lembaga tersebut. Sehingga diperlukan sebuah portal baru dimana masyarakat dapat melihat jadwal kerja dan rapat yang dilakukan komisi-komisi lembaga yang tentu saja tidak bersifat rahasia, sistem komentar dan Public Relation yang lebih terbuka dari sekarang dan sistem pe-rating-an terhadap setiap kegiatan, komisi dan lembaga tersebut secara global sehingga masyarakat dapat menilai suatu isu atau komisi dengan lebih cepat dan mudah sehingga lembaga tersebut dapat berbenah diri menjadi lebih baik.

Dalam rangka mewujudkan hal tersebut diatas, maka diperlukan sebuah tim IT yang berfungsi khusus dan kompeten. Didalam tim IT tersebut diperlukan seorang copywriter dan pakar komunikasi yang menangani masalah isi dan penjelasan kepada masyarakat yang berkomentar mengenai suatu isu. Kemudian juga ada seorang webmaster yang mengerti tentang cara kerja web yang dibangun. Dan yang terakhir adalah tim pengembang yang terdiri dari mer web, database developer, analis sistem dan desainer web agar tampak lebih user-friendly. Sehingga masyarakat nyaman untuk berada disitus tersebut.
Dari segi teknis, untuk membuat web tersebut diperlukan waktu sekitar 6 bulan dengan tahap pengembangan sebagai berikut :
1. Analisis Masalah, tahapan ini melakukan pendataan terhadap masalah riil baik dari segi tampilan kepada pengguna maupun kepada lembaganya dan solusinya

2. Pembuatan prototipe, tahapan ini melakukan pembuatan prototipe yang berisi solusi masalahnya namun belum lengkap fitur-fiturnya

3. Formalisasi, tahapan ini berisi tentang analisis sistem secara mendalam

4. Implementasi, tahapan ini berisi tentang pembangunan portal web tersebut

5. Evaluasi, tahapan ini berisi tentang evaluasi sistem dan masukan terhadapnya baik dari calon pengguna maupun dari sisi lembaganya

6. Evaluasi Jangka Panjang, tahapan ini berisi masukan baik dari pengguna maupun dari sisi lembaga disaat portal tersebut sudah berjalan

Dengan demikian, diharapkan lembaga publik dapat mendekatkan diri kepada masyarakat, dan lembaga tersebut dapat dinilai secara publik sehingga ia dapat menjadi lebih baik kinerjanya.

Thursday, May 28, 2009

Dewan Perwakilan Rakyat 2.0

Saat ini, masyarakat Indonesia rata-rata tidak mengerti apa yang dilakukan oleh wakilnya di DPR sana. Undang-undang apa yang sedang dibahas dan Rancangan Anggaran tidak terkumpul dalam suatu repository yang lengkap. Sehingga demokrasi di Indonesia tidak dapat berjalan dengan baik.

Dengan perkembangan teknologi web 2.0, diharapkan masyarakat lebih berpartisipasi aktif dalam menanggapi isu-isu yang berkembang dimasyarakat dengan memberikan tanggapan. Tanggapan dari masyarakat dapat digunakan untuk para dewan sehingga mereka tidak perlu repot-repot mencari ke akar rumput, atau mungkin juga dapat digunakan agar para wakil dapat mendapatkan gambaran kasar sebelum pergi ke akar rumput.

Jika melihat sebuah web tentang Dewan Perwakilan Rakyat yang baik, cobalah tengok web ini http://www.nysenate.gov/. Menurut pengamatan saya, saat ini web ini hanya mencakup tentang DPRD New York, yang mencakup fitur sebagai berikut : mencari senator yang mengurusi daerah anda dan dapat mengirimkan pesan kepadanya, mailing list, komite apa saja yang ada di DPRD tersebut beserta agenda2nya dan anggotanya, jadwal rapat dan yang paling keren video streaming tentang agenda mereka.

Web site ini menggunakan CMS open source Drupal. Yang kira-kira berisi modul sebagai berikut :
1. organic group (untuk membuat grup tentang komisinya)
2. privatemsg, token dan drupal mail (untuk mailing list dan private message)
3. share, (untuk membagi konten kemana saja)
4. video (untuk video blogging)
5. Chart (untuk membuat tabel)
6. Search (kemungkinan besar standar drupal)
7. Forum
8. five star, voting api (untuk memberi nilai pada ide terbaik dari masyarakat)

Kalo DPR punya web kaya gini keren juga kali ya?

Thursday, September 13, 2007

Swa-Dialektika

Katanya, orang Yunani dl sering melakukan dialektika dengan diri sendiri... Apa itu dialektika, katanya hegel = Ada Thesis, sesuatu yang di percayai benar sekarang, kemudian datang Anti tesis, lawannya Thesis untuk menjadi sintesa atau kebenaran yang baru, Gw mencobanya... begini

Tesis Ivan (TI) : "Tuhan pasti ada!"
Antitesis Ivan (AT) : Iya gitu?? Mana buktinya
TI : Loh itu ciptaannya, anda kafir yah?
AT : Katanya orang empirik kalo gak bisa dilihat itu gak bisa ditentukan kebenarannya...
TI : Lu bener-bener kafir, lah kan ada di Al-Quran, jadi anda tidak percaya??
AT : Emang Quran bener?
TI : Benerlah kan dari Tuhan?
AT : Loh??
TI : Iya lah, gw gak mau dengar orang kafir!
AT : Menurut ahli matematika, kebenaran sesuati itu gak bisa merefer ke diri sendiri.
TI : Masa'
AT : Coba .... Pernyataan ini salah, terus gimana membuktikan kebenarannya???
TI : Dasar Kafir Haram Jaddah, kan ada ciptaannya... kursi aja ada penciptanya.
AT : Ya, gak bisa gitu dong, kalo kursi dkk punya pencipta belum tentu semuanya termasuk lu punya juga kan?
IT : Masak' tau dari mana lu?
AT : Baca buku filsafat dong
IT : Haram lah itu filsafat, semua yang percaya itu kafir ajah!
AT : Kagak
IT : Mati kau jahanam, darah kau halal tumpah.... Crot!
AT : Ahhhkh...

Simpulan, tampaknya dialektika ini berakhir tidak damai!

Monday, July 09, 2007

Keseimbangan Rapuh Demokrasi (Fungsi-fungsi aktor demokrasi)

Demokrasi, walaupun dia dapat mengurangi kemungkinan gesekan-gesekan dimasyarakat tidak berujung pada perang saudara, namun bila tidak seimbang, demokrasi dapat berubah menjadi anarki (Ketidakadanya aturan dalam masyarakat) jika ada konflik kepentingan yang memuncak, dan juga dapat menjadi lemah bila ada hubungan yang tidak membangun dari komponennya..... . Itu setidaknya yang dikatakan oleh Claudius Pulcher, mentor dari Tiberius Sempronius Graccus (kita jadi tau dari mana kata AMD sempron; sempron berarti anaknya, bahasa arab "Bin") anggota Tribuni plebis dari Romawi yang mampu menggerakkan rakyat Roma untuk melawan senator-senator yang gila harta. Walaupun si Tiberius sendiri mati di gebukin para senator.

Demokrasi Roma, kalo ana tilik, ada tiga komponen utamanya... Pemerintah (magisterate dan consul), Parlemen (Senat Roma dan tribuni plebis), dan kelompok kepentingan (patricia dan plebis)... Perempuan gak termasuk warga roma (yah, namanya orang dl)...

Ketiga komponen tadi, membuat keseimbangan pada romawi, sehingga republik roma menjadi kuat, bahkan mengalahkan bangsa-bangsa lain seperti kartago, spanyol dsb (dan saya bingung :P)..... Militer dan ekonomi yang kuat, pokoknya roma menjadi digdaya.

Ketiga komponen tadi juga mewarnai awal2 kekalifahan muslim. Kalifah sebagai pemerintah, Senat dari perwakilan suku dan Suku-suku sebagai kelompok kepentingan.... Namun, konflik kepentingan yang Tajam, membuat sistem ini akhirnya hanya bertahan 4 periode saja.

Sekarang Di Indonesia juga ada tiga komponen tersebut. Pemerintah, DPR dan MPR, Kelompok kepentingan berupa Pengusaha, Partai, LSM dan Rakyat. Situasi sekarang seimbang namun lemah, karena Pemerintah, DPR dan MPR, Kelompok kepentingan tidak mampu bermain peran seperti di Roma dulu.


Di KM-ITB sendiri, juga terdapat tiga komponen yaitu, Kabinet, Kongres, dan kelompok kepentingan (Himpunan dan Unit). Namun, tidak memberikan peran yang baik. Seharusnya, kabinet memberikan kepemimpinan dan arahan, kongres memberikan kritik dan tekanan sementara kelompok kepentingan memberikan komitmen dan tekanan juga terhadap kabinet. Namun, tampaknya ketiga komponen tersebut tidak mengerti peran demokrasi. Kabinet memberikan arahan, namun tidak dikritik kongres dan tidak ada komitmen dari kelompok kepentingan, sehingga arahannya menjadi tidak "mak nyuss". Konflik-konflik dan kritik tampak dijauhi, situasi jadi terlihat terlalu damai, padahal tidak... Beberapa kelompok jika tak suka dengan arahan kabinet, walk out. Ini tidak baik menurut saya. Seharusnya mereka terus duduk disana dan berteriak!

Ketidakberesan ini harus dibenahi oleh kabinet, kongres dan kelompok kepentingan di KM-ITB dalam upayanya untuk memberikan pelajaran demokrasi yang benar, mendidik pemimpin ITB dan membangun bangsa Indonesia.

Udah ah... Semoga dapat dipahami oleh parah pelaku politik ITB pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Friday, May 04, 2007

Pasangan Pengusaha

Hari ini, gw liat di majalah Time, ada artikel yang menarik, karena gw harap itu terjadi didiri gw.

Judulnya Co-preneurship. Pokoknya intinya tentang cerita orang-orang anglo-saxon <= bahasa tahun '33 banget sih, katanya disana lagi ngetren masalah orang-orang yang saling mencintai (bisa suami-istri, pacar atau tunangan) yang membuat dan menjalankan bisnis bareng. Katanya, keuntungannya bisa meningkat, ya iya lah orang vice president-nya gak usah digaji :P!

Kemudian alasan yang lain adalah, kepercayaan. Siapa lagi yang bisa anda percaya selain keluarga anda dan pasangan anda <= kata godfather. Orang yang digaji bisa aja ngejeprut dijalan, entah minggat atau udah bosen, tapi kalo keluarga cuma minggat kalo udah bukan keluarga lagi. Dan kerena perasaan senasib sepenanggungan, mereka bisa kerjasama lebih baik, dan kepemilikan terhadap perusahaannya lebih baik.

Kekurangannya adalah, ketika ada masalah di keluarga takutnya dibawa kekantor, bahaya tuh. Jadi gimana, Van?

Karena gw bisa gak usah ngegaji vice president, gw dukung ide ini.... Masalahnya, siapa yang mau ngisi jabatan vice president?

Tuesday, April 17, 2007

Membangun Frame Gerakan Mahasiswa



Oleh : Ivan Sugiarto Widodo (13504149)
Disampaikan pada diskusi Psik ITB tanggal 13 April 2007

Latar Belakang

Mahasiswa, yang tadinya diharapkan mampu membawa perubahan sosial, malah ngumpet entah dimana. Kampus-kampus tidak lagi memiliki kemandirian dalam bergerak, ini tercermin dari adanya demo bila salah satu parpol menghendaki dan tidak demo bila tidak dikendaki; tidak punya alasan untuk bergerak; tidak punya lagi kekritisan, ini terlihat dari semakin sedikitnya tulisan dari mahasiswa untuk membedah masalah bangsa di media massa, walaupun mungkin saja dia menulis di blog. Mahasiswa yang saya lihat terkesan apatis. Saya pernah berbicara dengan buruh di cimahi, dia berkata bahwa mahasiswa telah hilang untuk membantu kaum buruh, mereka bekerja sendiri. Sementara di mahasiswa sendiri, mereka semakin tidak peduli lingkungan sekitar, mereka hanya melihat apa yang ada dihadapan mereka dan berhubungan langsung dengan mereka, intinya individualis. Nampaknya mahasiswa tidak melihat masalah-masalah bangsa. Mereka teralienasi dari lingkungan. Padahal, sekarang jaman informasi, seharusnya mereka bisa melihat informasi tersebut dengan gampang dan cepat. Saya melihat, diskusi-diskusi diruang virtual semakin marak dan dilengkapi dengan analisis yang tajam. Tapi, tetap saja mahasiswa tidak bergerak. Mengapa ini terjadi? Mungkinkah mereka tidak tahu harus berbuat apa? Atau takut?
Indonesia sendiri, sekarang memiliki banyak masalah. 40 juta rakyat miskin, kekurangan pangan sampai 500 ribu ton beras yang menyebabkan harga beras mencapai kisaran 6000 rupiah, bencana alam yang tak kunjung usai, pengangguran mencapai 10 juta orang, kecelakaan transportasi, kekurangan energi, busung lapar, penyakit-penyakit seperti flu burung, rakyat yang tidak siap menerima demokrasi sampai pada kelakuan para pejabat yang payah. Walaupun disisi lain, ada peningkatan dari segi ekonomi mikro. Tetapi, tampaknya tidak banyak membantu dalam kemakmuran rakyat.

Sebagai seorang yang menganut teori bahwa pemberesan ekonomi adalah dasar untuk membereskan seluruh masalah, dan seorang yang bergaya kapitalis neo liberal, saya merasa bahwa perbaikan ekonomi memang akan mejadi sebuat domino effect terhadap seluruh kehidupan bangsa, Energinya kah, sosialnya, pendidikannya, pangannya, industrinya, lingkungannya. Dan memang saya merasa, buat apa mendidik orang dengan pendidikan jika ia tidak bisa makan dengan halal? Buat apa membangun PLTN jika kita tidak butuh itu secara ekonomi? Buat apa membangun jalan kalau kita tidak mampu mengisinya dengan barang-barang dagangan atau jasa, ataukah kita ingin berbangga saja mempunyai jalan besar? Buat apa menanam padi kalau tidak menguntungkan? Sampai buat apa berpoligami dan punya banyak anak, kalau hanya memiskinkan?

Pernyataan Tujuan

Secara umum, saya sepakat dengan visi dari SBY ingin menjadikan bangsa Indonesia berpendapatan perkapita sebesar 18 ribu dollar pada tahun 2030, walaupun agak tidak masuk akal, namun pantas diperjuangkan.

Pendefinisian Masalah

Dengan menggunakan latar belakang saya sebagai seorang informatik, untuk mencapai tujuan organisasi dengan penerapan sistem informasi harus mempunyai 4 komponen penting yang harus diubah, yaitu Brainware, Organoware, Hardware dan Software.

Pertama adalah Brainware atau skill dari rakyat Indonesia. Skill dapat ditingkatkan melalui pendidikan formal, peningkatan akses informasi agar rakyat dapat membaca jurnal-jurnal luar negeri. Untungnya, sekarang internet sudah merajalela. Namun, sebagian rakyat Indonesia tidak memiliki akses internet. Kita punya 230 juta rakyat, tetapi menurut world fact book CIA rakyat Indonesia yang dapat mengakses internet hanya 16 juta orang, kurang dari 10%. Bagaimana kita bisa mendapatkan ilmu-ilmu dari Eropa, Amerika atau Asia Timur jika yang punya akses hanya sebanyak itu? Bagaimana kita menjadi economic powerhouse jika inovasi kita terlambat dan kita hanya menjadi katak dalam tempurung?

Dari segi Organoware kita juga payah, para birokrat dan wakil rakyat diisi oleh, mayoritas, koruptor dan kadang-kadang membuat kebijakan yang tidak masuk akal! Seperti membuat RUU Penanaman Modal Asing, yang memperbolehkan perusahaan asing membeli seluruh saham dari perusahaan Indonesia. Sebelum RUU PMA disahkan saja air kita dikuasai Prancis, Aqua dibeli danone, Ades dibeli Nestle, PAM juga. Air, yang menjadi hajat hidup rakyat kok di kuasai asing? Apalagi yang akan dibeli asing? Akankah kita terjajah dengan RUU PMA? Pemerintah sendiri, tidak mampu lagi memenuhi janjinya, JK ketika ada di Jogja berjanji untuk membayar setiap rumah dengan ganti rugi sebesar 30 juta rupiah, tapi mana realisasinya, kasus lumpur Lapindo yang tak kunjung usai. Bermacam-macam kasus lainnya dimana pemerintah tidak dapat menunjukkan kepemimpinannya. Sementara, banyak orang hanya berkoar-koar saja tidak jelas juntrungannya. Seperti kaum moralis, yang memanfaatkan demokrasi untuk mewujudkan ide-ide gilanya tentang Theokrasi.

Dari segi hardware, kita punya sumberdaya alam yang melimpah, ikan dilaut, didarat ada mineral berharga dan tanah yang subur, kondisi geografis kita yang strategis. Namun, semua itu hanya menjadi dongeng dikelas kala pelajaran PPKn. Tetapi, tidak dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Kemudian, dari segi infrastruktur transportasi, ada beberapa daerah di pedalaman belum ada jalan raya, sementara di kota besar, jalan macet. Ketersediaan transportasi menyebabkan daerah di pedalaman sulit berkembang karena arus barang dan jasa minim, menyebabkan sulitnya pengembangan bisnis baru. Yang menyebabkan ketidakmakmuran rakyat.

Dari segi software, yaitu lingkungan dan sosial budaya, rakyat Indonesia memang pekerja keras, saya melihat dipasar, jam 3 sudah buka. Orang, walaupun untungnya kecil masih saja terus berusaha pantang menyerah. Banyak orang miskin yang bekerja di tempat sampah, di tempat-tempat terjorok didunia tanpa malu-malu sedikitpun. Sebenarnya, memang rakyat kita adalah pekerja keras, namun tidak mendapatkan kesempatan yang luas. Dan juga ada beberapa yang memang mencari kesempatan di air keruh.

Saya menduga bahwa permasalahan yang utama terjadi pada karena pelaku-pelaku sosial di Indonesia tidak dapat memposisikan dirinya sesuai perannya. Saya mendapatkan hipotesis tersebut karena melihat dari model pengembangan software dengan pendekatan Rational Unified Process diawali dari pendefiisian aktor dan peran dengan memanfaatkan use case diagram.

Analisis

Untuk membuat sebuah sistem informasi dari sebuah perusahaan, diperlukan pendefinisian Use Case, yang berisi aktor-aktor dan apa saja yang dia bisa lakukan. Tindakan seperti ini, menurut saya bisa dilakukan untuk mencari tahu apakah semua golongan rakyat sudah berlaku seperti yang seharusnya dalam tujuan mencapai kesejahteraan rakyat.
Mari kita muali analisis ini dengan mencari aktor-aktor yang berada dimasyarakat. Secara umum, saya membagi masyarakat menjadi 3 golongan. Golongan elit, yaitu pengusaha, pembuat kebijakan dan militer karena mereka dapat mengatur jalannya sosial dan politik masyarakat. Kedua adalah, golongan menengah yang memiliki keahlian khusus atau modal, yaitu akademisi, mahasiswa dan borjuis kecil. Golongan ketiga adalah golongan yang tidak memiliki modal ataupun keahlian khusus sehingga dia tidak mempunyai bargaining position yang tinggi dan tidak mampu memberikan solusi kepada masyarakat, golongan ketiga tidak saya bagi lagi menjadi sub-sub golongan.
Diagram use case, akan menjelaskan tugas-tugas yang seharusnya diambil oleh mereka.



Pengambilkebijakan sekarang, tidak mampu lagi untuk mengambil kebijakan yang prorakyat, karena fungsinya mulai terjadi dualisme antara pengambilkebijakan dan pengusaha, mereka membuat kebijakan yang medukung usahanya dalam mencari keuntungan. Contohnya, terjadi pada kasus Jusuf Kalla, dia tidak bisa memisahkan posisinya sebagai pengusaha dan pengambilkebijakan.
Militer, walaupun sudah dihapuskan dwifungsi ABRI, tetapi banyak juga militer yang curi-curi menjadi pengusaha.
Sementara pengusaha sendiri, cenderung menguasai pasar dari hulu ke hilir, contohnya pada indofood group dan wings group. Indofood mempunyai jaringan bisnis dari produsen sampai retailer, wings groups mempunyai jaringan produsen dan transportasi. Tindakan monopolistik ini, tentu saja membuat usaha kecil mati karena harga yang ditawarkan oleh perusahaan besar tentu saja lebih murah. Sehingga perannya sebagai perangkul usaha kecil dan menengah berubah menjadi predator pasar utama.

Beralih ke kelas menengah, akademisi, kebanyakan tidak dapat menjadi pengajar tentang moral yang baik. Saya melihat, ada guru mengaji yang memperkosa anak pengajiannya. Banyak guru yang juga korupsi dan mengambil uang-uang sumbangan. Guru tidak lagi menjadi panutan dimasyarakat untuk pembangunan moralitas. Akademisi, masih mampu menciptakan inovasi yang tepat guna, mamun berkat kebijakan-kebijakan pemerintah, beberapa dari inovasi tersebut yang tidak terlihat nyata dimasyarakat, contohnya biodiesel, solusi penanganan sampah dan sel surya.

Mahasiswa sekarang, tampak lebih sering ke dugem dan tidak lagi peduli terhadap lingkungan sekitar. Wawancara oleh metro TV terhadap ketua HMI pusat tentang kegiatan mahasiswa menjadi contoh nyata bahwa mahasiswa sekarang semakin katcrut. Ia berkata, bahwa HMI sekarang tidak ada kadernya yang menulis di koran lagi, sehingga fungsinya sebagai penjaga moral tidak terlihat lagi. Kemudian, beberapa organisasi pergerakan mahasiswa disinyalir tidak lagi suci, mereka menerima sogokan dari para politisi. LMND contohnya, mereka disinyalir tidak lagi suci, bahkan, ada yang pernah berkata kepada saya, mulut mereka memang komunis, tetapi perut kapitalis. KAMMI sendiri juga disinyalir tidak lagi suci, ada teman saya berkata tentang blok cepu, intinya ia berkata seperti ini, kecewa, masak kita gak boleh demo blok cepu karena PKS mendukung hal tersebut. Sebagai fungsi kader perubahan sosial juga tidak terlihat, saya melihat sendiri di TV bahwa ada salah seorang ketua BEM UI yang menjadi anggota partai golkar, partai yang dulu ia kritik habis-habisan sewaktu reformasi. Entah berapa uang yang diberikan kepadanya?

Borjuis kecil sebagai ujung tombak ekonomi, peran tersebut tidak didukung oleh proteksi pasar yang baik. Saya melihat, adanya hipermarket-hipermarket yang mengkebiri pasar-pasar tradisional itu juga merupakan masalah yang besar. Seharusnya pemerintah, memperbaiki pasar-pasar tradisional, bukannya memperbolehkan perusahaan asing berjualan di Indonesia. Jikalau pemerintah memang benar-benar memberikan peraturan yang baik mengenai proteksi pasar, saya yakin bahwa peran borjuis kecil akan tercapai.

Rakyat, memang kerjanya hanya memprotes, mereka mengerjakan tugasnya dengan benar. Namun, tidak ada pemimpin diantara mereka, sehingga arah gerak mereka tidak jelas dan terkesan destruktif. Maka dari itu, diperlukan segera pemimpin diantara mereka.

Kesimpulan

Ternyata, hampir seluruh komponen masyarakat menegah dan elit tidak dapat mengerti tugas yang harus dilakukan. Sehingga, mereka tidak dapat menjadi aktor yang dapat membawa bangsa ke kemakmuran ekonomi sampai pendapatan perkapita US$ 18.000. Jika mereka mengetahui apa peran dari mereka, menurut saya, akan terjadi perubahan besar dalam kemakmuran rakyat.
Untuk itu, saya melihat perlunya pewacanaan tentang fungsi dan posisi mahasiswa, mengingat memang fungsinya sebagai penjaga moral dan kader perubahan sosial. Sehingga, apabila ia tahu fungsinya, diharapkan ia mampu dalam mengisi kehidupan sosial setelah ia lulus dan menjaga dan mendorong perbaikan moral selagi ia berada di kampus.
Melihat kondisi seperti itu, saya ingin mengusulkan kepada PSIK-ITB untuk mengusung agenda ini dalam rangka menuju ke Kemakmuran Indonesia. Disamping menyelesaikan masalah Brainware, Organoware, Software dan Hardware bangsa Indonesia.
Sumber:
Wikipedia.org
Soros, George. Open Society
Slide-slide kuliah Rekayasa perangkat lunak





Saturday, March 31, 2007

Jaman Niat

Tulisan ini, diawali dari teman saya, yang protes terhadap beberapa karya seni, kata-kata dan tulisan saya.

Dia bilang, kalo tindakan/kata-kata saya itu gak ikhlas.... Saya ingin memberikan pembelaan.

Maksud dari ikhlas itu apa?
1. Ikhlas itu mungkin berarti hanya mengharapkan balasan dari Allah. Lah, ini mah emang tujuan saya.

2. Memiliki tujuan yang besar di belakang. Ya, semua orang punya tujuan buat ngomong. Kalo kagak namanya gila, hanya menceracau. Nah, tinggal tujuannya itu gimana. Benar atau Salah, kalo begitu, Insya Allah tindakan saya benar. Karena dari buku Filsafat ada dua definisi benar, pertama sesuai dengan kenyataan. Kedua, menguntungkan bagi saya.

Beralih ke karya seni...

Menurut definisi dari seni kontemporer, seni itu yang penting adalah niatan dibalik karya seni. Ada karya seni yang tujuannya untuk memprotes seni, jadi beberepa karya seni malah dibakar untuk tujuan itu.

Jadi, apakah orang sekarang tidak berniat? Padahal setiap orang harus berniat? Karena sekarang adalah jaman niat, kalo kita berniat, api pergerakan akan tetap menyala dan menerangi sekitarnya.

Monday, March 19, 2007

Nasionalisme yang Eksploitatif dan Ekspansionis??

Apa sih nasionalisme itu??

Nasionalisme adalah, paham yang menganggap bahwa unit terkecil sosial adalah negara, maka dari itu, untuk memajukan sosial manusia, harus memajukan negara terlebih dahulu.

Negara yang maju, berarti terjadi arus sumber daya yang positif kedalam negeri. sedangkan sumberdaya dunia adalah tetap. Jadi, pasti ada negara yang kita eksploitasi demi kepentingan negara....

Nah, Soros berkata, tak mungkin kita mengambil seluruh uang yang ada di dunia, karena kalo uang seluruhnya ada di satu negara maka tidak ada negara lain yang mampu membeli barang dari negara tersebut...

Jadi, uangnya harus mengalir keluar negeri dalam bentuk penanaman modal langsung, jadi nasionalis harus ekspansif.... Dari uang tersebut kita eksploitasi lagi....

Hmm.... Bener juga katanya Hitler.... Untuk kepentingan nasional kita harus ekspansif dan eksploitatif.

Sunday, March 18, 2007

Kemandirian Ekonomi Sebagai Dasar Kemerdekaan Sesungguhnya

Indonesia, saat ini sangat tergantung kepada luar negeri. Dari segi ekonomi, kita sangat tergantung kepada IMF. Dari politik kita juga tergantung kepada para peminjam uang. Dari segi hankam, kita tergantung kepada AS. Dari segi sosial budaya, kita mulai mengekor kepada Jepang. Ini semua, Adalah aspek yang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun mengapa kita tidak mempunyai kemerdekaan disana? Jawabnya menurut saya, adalah karena kita tidak merdeka secara ekonomi. Masih teringat dibenak saya, bagaimana urusan politik dalam negeri diintervensi oleh IMF, mulai dari penjualan BUMN yang menguntungkan sampai urusan pendidikan. Kemudian, dengan pembangunan ekonomi, masyarakat Indonesia semuanya dapat makan, dapat membeli persenjataan yang termodern, membangun infrastruktuktur yang bagus, memperbaiki sistem pendidikan dan dapat melakukan hampir segala hal yang kita mau.

Sebagai contoh, Jerman sehabis perang dunia kedua, sang Fuhrer, menggaet para pengusaha untuk membangun industri berat yang telah mati akibat perang dunia pertama. Yunani, jaman perang Peloponesos, dapat membangun angkatan laut terbesar di seantero mediterania karena, seluruh keluarga adalah satuan produksi, maka dari itu muncul kata Oikonomia (cara mengatur rumah tangga) dan tentu saja, menghasilkan filsuf-filsuf paling aneh di jamannya seperti sokrates, plato dkk, karena uang banyak, tidak ada pekerjaan lain selain duduk dan berpikir dan dibayar! Sebuah pekerjaan yang aneh dan menyenangkan. Peradaban Islam, juga dibangun melalui ekonomi, Nabi Muhammad, saat menginjakkan kaki di Madinah, langsung berencana untuk menguasai pasar. Turki Ottoman, mampu membangun benteng di Istambul dan angkatan laut yang kuat, karena mereka menguasai perdagangan rempah-rempah Eropa.

Untuk mencapai kemandirian ekonomi, memang bukan hal yang mudah. Namun, menyenangkan dan seluruh masyarakat dapat membantu pemerintah. Mengapa? Karena berhubungan dengan duit, siapa yang tidak suka dengan duit? Dan kita dapat membantu dengan cara menjadi pengusaha. Ekonomi korea, dibangun dengan sekitar 8% penduduknya menjadi pengusaha, AS sekitar 5%. Kemudian, dengan mencari duit, ternyata Muhammad Yunus mendapatkan nobel. Pahala dan uang bersatu padu menghasilkan sesuatu yang manis! Jikalau Indonesia terdapat 5% saja pengusaha kecil, hal itu akan sangat membantu pendapatan masyarakat. Bila masyarakat mendapatkan pendapatan per kapita sebanyak 5000 dollar AS dan pemerintah menerapkan pajak sebesar 10% per kepala maka, 210 juta * 5000 * 10%= 105 milyar dollar AS dari pajak! Dengan uang itu, Pendidikan yang keren, senjata yang keren, tempat dugem yang keren pun akan menjamur!

Bagaimana dengan kita, mahasiswa ITB? Jangan jadi pekerja! Jadilah pengusaha! ITB alumies shall never be a Slave! Sebuah pepatah dari Britania yang telah dirubah namun baik. Jadi ingat, Kita bukan budak dari Kapitalis asing, namun kita calon Kapitalis!

Monday, March 12, 2007

Feminisme?? Tah papa....

Setelah beberapa lama gw melihat gera'en feminisme, gw curiga kalo tu gera'en digera'ken oleh para kapitalis.....

Semakin tinggi perempuan, semakin banyak kebutuhannya....

That needs must be fullfilled....

Thursday, January 11, 2007

Pelem Indonesia.... Sedikit yang bagus, selebihnya sampah!!!

Kemarin, gw membaca resensi dan tentu saja menonton beberapa sinetron indonesia, termasuk dua pelem yang lagi hangat di bicarakan <= gaya betul kaya pembawa acara apa ajah...

Ok, kembali ke laptop....

Buku harian Nayla dan Ekskul. PAda buku harian Nayla, gw ngeliat ini pelem adalah rip of (artinya perobekan paksa, alias pemerkosaan ide) terhadap 1 liter of tears... Gila!!! Emang Tukang sutradara udah gak bisa bikin pelem yang lebih bermutu apah??

Terus, ekskul, gw gak ngerti kenapa pelemnya dinamain ekskul?? Padahal ceritanya menurut gw itu gak nyambung banget!!! Aneh.... Gak Ngerti dah!!!

Karena itu, sekarang gw lagi mempertimbangkan untuk memasang TV kabel... Abis acara Indonesia GJ abis. Mendingan nonton National Geographic dah....

Nasi Aking adalah diversifikasi Pangan?? Gokil!!

Kemarin saya mendengar perkataan menteri pertanian, Nasi Aking adalah wujud diversifikasi pangan?? Hal terkonyol yang pernah gw denger... Belon tau apah, kalo rasanya bener-bener gak enak, mau bikin muntah...

Kemarin, gw iseng-iseng coba.. And, rasanya cuy... Seperti makan beras dari Neraka!!!!!! Sekarang perut gw sakiiiit banget gara-gara tuh nasi aking...... Gimana sih SBY, gak bisa ngasih makan semua orang dengan beras yang enak?? Sekarang, harga beras malah udah sampe 8500/kg... Buseeet!!!

Gw tak ngerti gimana sih cara pikir tuh menteri..... Mau digaplok apa??

Friday, October 20, 2006

Information Technology as an Aggregator of Fear

Ivan Sugiarto Widodo (13504149)

Information Technology (IT), by function, gives people a broad amount of Information through every means, such as Internet, Television and printed ones. Fear, said evolutionist, is a reaction to something that threatens a person survivals. Through it, things that Americans doesn’t know about life in Indonesia, for example, nowadays that information is served directly into American’s rooms, through Television, Internet, and other printed means. This has an advantage on the other hands, for example, people could get fresh issues about world’s politics, rumors, and economics. But, that information also gives us, although not explicitly, a glimpse views of world, either bad or good ones. On the other hands, man gets the bad ones faster than the good ones, according to Meme,
The Viruses of Mind. The information technology gives the necessary infrastructure for it.

To make it simple, I will give an analogy for frightening information spreads. Imagine that you live in a desolated island in middle of pacific, it has 10.000 inhabitants. Live there is very peaceful, murder, theft, robbery happens once a year. Your island is a part of a nation named Archipelago, which has 1.000.000 inhabitants and rather homogeny demography in every island, for example. Last year, an IT investor invested in the internet network in that nation and established a web-page called Archipelago News Network (ANN). The ANN has many journalists that search for news in every island that Archipelago has. Furthermore, Archipelago government gives an incentive for one-computer-one-home policy. At this point, let’s assume that the murder, theft, robbery happens in the same rate every island. Now, with the information technology, the information about these crimes aggregate into 100 times! Every three days, you see a murder, theft and robbery, you felt scared and live is not as beautiful as the old times.

According to that analogy, we can understand why today world is full of fear, hatred and pain. It is simply because of the advancement of IT and the growing number of people; today record earth inhabitants reach over 7 millions. World has became more complex. Information about famine in the Africa can spread though internet and television, this implies that most of people on earth shared the same fear of famine. Terrorists, uses IT to spread their terror, the world is scared. The other side of people reacts accordingly. The world is not a safe place again.

Monday, October 16, 2006

North Korean Nuclear Crisis

After several days I am listening on the North Korean nuclear issues, I saw two major groups of nation that react according to the issues. First the one who felt that North Korea must be sanctioned extremely, the others felt in the opposite ways. They have different opinion about this issues.

The first ones, fear that the nuclear technology must not be taken by a country that is not prosperous enough. The latest situation feared to trigger the far-east nuclear race, the Japan will not be just stand still. They must take a imminent actions. Today, the Japanese government issues travel and trade bans. On the long run, Japan might strengthen their defense through nuclear research an production. The US, would take a imminent military action. If this scenario proved true, the world may enter the nuclear dark age.

The one who is opposed it felt that North Korea lies about the nuclear test, according to the size of the blast and radioactivity in the air and water. They said world supposed not to take this emotionally. Furthermore, they said that if the US don't agree with it, they should give the example to the world.

In my point of view, I agree with the second one. I would like to address this statement to the world, "War and embargo is not the answer for this problem, giving example of nuclear weapon reduction is the best".